“Mas, kamu
itu pribadi yang baik, dimataku kamu sosok yang menginspirasi. Keteguhanmu
membuatku terkesan. Tapi maaf, aku harus melanjutkan langahku tanpa dirimu.
Kamu juga harus melanjutkan mimpi-mimpimu tanpa aku. Karena begitulah
seharusnya. Kita memiliki mimpi yang berbeda, jalan yang berbeda, dan tujuan
yan berbeda pula. Mafkan aku, biarkan kenangan kita mengudara, dipeluk rembulan
ketika malam, disinari mentari dikala siang. Maafkan aku mas”
Sejenak kata-kata itu menggantung di udara, membias
bersama pelangi yang menawan. Ah Syifa, kau tetap saja menawan hingga detik
ini, bahkan ketika hati ini terluka karenamu.
“bolehkah aku mengajukan permintaan terakhirku
padamu ?” bagiku semuanya juga sudah selesai, aku tak ingin memperkeruh
suasana.
“Baiklah, mudah-mudahan aku mampu mengabulkannya”
Aku mengeluarkan sepasang ukiran kayu berbentuk
hati. Awalnya aku ingin memberikan padanya ketika kami jalan berdua, tentu
bukan pada kondisi seperti ini. Ini adalah sepasang kayu cantigi, kamu bisa
menyebutnya kayu panjang umur. Tanyalah pada orang basemah, semua tau hal ini.
Kuberikan pada Syifa satu bagian, sedangkan bagian lainnya kusimpan kembali.
Aku hanya ingin dia panjang umur. Itu bukan komitmen untuk memiliki, itu adalah
komitmen untuk mulai merelakan.
“kamu ingin aku memakainya ?”
“tidak, bukan itu permohonanku”
“lalu?”
“terimakasih untuk semuanya, tapi kumohon” suaraku
tercekat, tenggorokanku kering, meradang tak mau bicara. Tapi Syifa menungguku,
aku tak boleh mengecewakannya di pertemuan segenting ini “Berbahagialah” lalu
dengan bahasa isyarat aku pamit pergi. Kutinggalkan Syifa sendirian. Disinilah dia
biasa menunggu angkot untuk pulang. Disini juga kami biasa berpisah. Tapi
perpisahan hari ni akan lebih berat dari yang sebelumnya. Aku tak tau bagaimana
ekspresinya setelah aku pergi, aku tak menoleh lagi, juga tak melirik kaca
spion sepeda motor pembelian ayahku. Ini adalah keputusanku
Kini,
dirimu dihatiku seperti sajak yang hilang
Tak
harus ditemukan
Tapi
harus diganti dengan sajak-sajak yang lainnya
Bukan
aku melupakanmu
Inilah
bentuk penghormatanku untuk cintaku padamu
Semoga
dirimu dinaungi kedamaia
No comments:
Post a Comment