Sunday, January 6, 2019

Sajak yang Hilang

 “Mas, kamu itu pribadi yang baik, dimataku kamu sosok yang menginspirasi. Keteguhanmu membuatku terkesan. Tapi maaf, aku harus melanjutkan langahku tanpa dirimu. Kamu juga harus melanjutkan mimpi-mimpimu tanpa aku. Karena begitulah seharusnya. Kita memiliki mimpi yang berbeda, jalan yang berbeda, dan tujuan yan berbeda pula. Mafkan aku, biarkan kenangan kita mengudara, dipeluk rembulan ketika malam, disinari mentari dikala siang. Maafkan aku mas”
Sejenak kata-kata itu menggantung di udara, membias bersama pelangi yang menawan. Ah Syifa, kau tetap saja menawan hingga detik ini, bahkan ketika hati ini terluka karenamu.


Sajak yang Hilang


“bolehkah aku mengajukan permintaan terakhirku padamu ?” bagiku semuanya juga sudah selesai, aku tak ingin memperkeruh suasana.
“Baiklah, mudah-mudahan aku mampu mengabulkannya”
Aku mengeluarkan sepasang ukiran kayu berbentuk hati. Awalnya aku ingin memberikan padanya ketika kami jalan berdua, tentu bukan pada kondisi seperti ini. Ini adalah sepasang kayu cantigi, kamu bisa menyebutnya kayu panjang umur. Tanyalah pada orang basemah, semua tau hal ini. Kuberikan pada Syifa satu bagian, sedangkan bagian lainnya kusimpan kembali. Aku hanya ingin dia panjang umur. Itu bukan komitmen untuk memiliki, itu adalah komitmen untuk mulai merelakan.
“kamu ingin aku memakainya ?”
“tidak, bukan itu permohonanku”
“lalu?”
“terimakasih untuk semuanya, tapi kumohon” suaraku tercekat, tenggorokanku kering, meradang tak mau bicara. Tapi Syifa menungguku, aku tak boleh mengecewakannya di pertemuan segenting ini “Berbahagialah” lalu dengan bahasa isyarat aku pamit pergi. Kutinggalkan Syifa sendirian. Disinilah dia biasa menunggu angkot untuk pulang. Disini juga kami biasa berpisah. Tapi perpisahan hari ni akan lebih berat dari yang sebelumnya. Aku tak tau bagaimana ekspresinya setelah aku pergi, aku tak menoleh lagi, juga tak melirik kaca spion sepeda motor pembelian ayahku. Ini adalah keputusanku

Kini, dirimu dihatiku seperti sajak yang hilang
Tak harus ditemukan
Tapi harus diganti dengan sajak-sajak yang lainnya
Bukan aku melupakanmu
Inilah bentuk penghormatanku untuk cintaku padamu
Semoga dirimu dinaungi kedamaia

No comments:

Post a Comment