Hmmmmmm, aroma kopi tubruk panas
menusuk indera penciumanku di pagi ini. Yaa, kopi tanah puyang, kopi khas
Sumatera Selatan. Aromanya bergelut dengan aroma pisang goreng yang baru saja
berjemur dari penggorengan. Pagi yang indah fikirku, sembari melamunkan negeriku
yang diujung tanduk. Kuperhatikan setiap orang yang melintas di depan rumahku.
Pagi masih gelap, tetapi banyak orang berlalu lalang memulai aktivitasnya.
Betapa bersemangatnya mereka pikirku. Sekumpulan remaja melintas lengkap dengan
outfit jogging, sangat bersemangat, sesekali bercanda dengan riangnya. Menoleh
kekanan dan kekiri melempar senyuman, oh tuhan aku juga pernah sebebas itu.
..............
“Din, tumben lu semangat banget
pagi ini, udah dua jam loh kita lari pagi ini” gurau ali sembari menjaga irama
langkah yang sudah mulai goyah karena kelelahan.
“iya nih, aku pengen banget jadi anggota TNI Li” kujawab penuh antusias. Iya, tahun ini
aku akan lulus SMA, aku pengen jadi anggota TNI setelah lulus.
“idihhhh ngebet banget, hahahaha.
Awas jangan terlalu terobsesi ntar stres loh” kami tertawa lepas, kali ini
langkah kami benar-benar terhenti. Aku memeluk perutku sendiri yang penuh
peluh.
“bisa aja lu li. Eh capek nih,
istirahat yuk” pintaku memelas, sambil terus memeluk perutku yang buncit.
“yeee baru dipuji dikit aja udah goyah. Yaudah berhenti di depan yaa,
sekalian beli minuman” jawab Ali santai.
Ali berlari mendahuluiku sambil
memberi kode untuk diikuti. Ia lalu berhenti di sebuah warung untuk membeli air
mineral. Aku akan terus mengikutinya kemanapun dia berlari agar aku juga bisa
menjadi anggota TNI. Biaya kuliah di kotaku mahal, setidaknya itu penilaian
orangtuaku. Aku harus giat berlatih agar bisa mewujudkan cita-citaku. Aku dan
Ali tak akan setengah-setengah, kami sudah setahun ini lari pagi dua jam setiap
hari. Kami selalu menambah porsi latihan kami. Aku akan menjaga kedaulatan
NKRI. Aku akan menjaga kedaulatan bumi pertiwi.
“Eh nyet, ngelamunin apa ? masih
pagi juga” sodok Ali sambil menyodorkan segelas air mineral “pelan-pelan
minumnya, kaki dilurusin biar ngga parises” Ali yang cerewet terasa lebih
menyebalkan jika sedang serius, tapi dia baik hati dan tulus. Yaa, itu hanya
opini pribadiku.
“Eh, anu, iya, gimana ? Apanya ?”
aku yang gugup menjawab sembarangan. Hanya disambut gelak tawa Ali. Aku ikut
tertawa.
“li, gimana berkasmu ? udah beres
semua ?”
“Ah, bisa aja lu ngalihin
pembicaraan. Udah beres semua, tinggal cus” iya, kami sedang mempersiapkan
berkas untuk pendaftaran. Sudah hampir setahun kami lari pagi, kami
mepersiapkannya dengan baik. Putra terbaiklah yang harus menjadi anggota TNI,
kamilah diantaranya.
.............
“udah, kalo kaga punya duit
gausah soksokan daftar, percuma !!!”
Aku masih menangis di kamarku,
bertutup bantal dan selimut. Berbisik pada kasur. Aku masih menangis di
kamarku. Menelan habis kalimat tersebut. Tidak, kalimat itu tidak pernah habis,
tidak pernah hilang. Semakin menggema, semakin mengiang di kepalaku.
Nyatanya aku gagal.
Setahun terakhir waktuku habis
untuk berlatih dan berlatih. Aku percaya, aku cukup kuat, aku cukup sehat, dan
aku cukup pintar untuk menjadi anggota TNI. Ternyata semua itu belum cukup. Ya,
aku tetap saja gagal. Aku tak lulus tahap akhir tes untuk menjadi prajurit,
begitu juga dengan Ali. Aku tak tahu apakabarnya hari ini, aku hanya peduli
pada kemalanganku, aku ingin sendiri, berteriak sesuka hati, mungkin Ali juga
sedang begini.
Aku tak tahu berapa lama aku
menangis, aku tiba dirumah saat malam hari, saat ini hari sudah malam lagi,
entah hitungan keberapa jam dinding berputar. Aku tak pernah benar-benar
menghitung. Bapak-ibukku datang dan pergi bergantian menghampiriku di kamar,
bukan lagi untuk menghiburku, mereka hanya memastikan aku masih hidup. Yaaa
hanya itu. Tidak, aku tidak punya kekasih selain Ali, itupun juga kalo dia bisa
dikategorikan sebagai kekasih. Belakangan ini kami hanya fokus pada tes ini,
tidak benar-benar peduli pada urusan wanita, itu bisa menyusul nanti setelah
aku berhasil mewujudkan doa-doaku. Walaupun nyatanya hari ini kami sudah gagal.
Kamu tak perlu menghitung rasa malu yang aku tanggung pada lingkunganku. Juga
tak usah menghitung seberapa banyak yang aku korbankan untuk semua ini. Kurasa
kamu tak akan pernah berniat menghitung semua itu jika melihat kondisiku
sekarang.
Bip Bip Bip Bip
“nyet bangun, masih nangis lu, ah
payah, pantes aja Ibu pertiwi ngga nerima lu, lu nya cengeng gimana mau jagain
ibu pertiwi, hahahaha” sontak mataku yang sembab terbuka dengan paksa. Telingaku
yang selama ini tuli mendadak bisa mendengar lagi. Semangatku yang telah mati
bangkit kembali, anggap saja reingkarnasi. Enak saja dia ngomong begitu,
bukannya dia juga terpukul, bukannya ali juga nangis dikamarnya, aku tak benar-benar tuli, ibukku sering menyebut nama
ali dalam obrolannya dengan bapak pas menghiburku beberapa hari yang lalu.
Bagaimana bisa dia bangkit lebih dulu dariku, dia ngga sekuat itu.
“kalo saja kuota penerimaan
kemarin nambah satu lagi, ibu pertiwi pasti lebih milih aku dari pada kamu.
Karena aku bisa bangkit lebih cepat darimu hahahaha” hah apa-apaan ini, omong
kosong macam apa yang ali coba katakan.
“kata siapa ? aku sudah baik-baik
saja. Satu lagi ibu pertiwi pasti lebih milih aku karena aku lebih kuat dari
kamu hahahaha”
“oh ya ? bisa dibuktikan ?”
“Besok pagi jam 04:00 WIB di GOR,
terlambat berarti menyerah, berani ?
“eh sejak kapan kamu berani
nantangin hah ? Deal !!!”
..............
Ah kopiku hampir saja dingin
ditiup angin pagi. Suara burung yang hinggap di batang sawo depan rumahku
menambah indah suasana pagi ini. Bagiku pagiku tetap indah, begitu juga pagi
itu. Andai saja Ali tak menelponku malam itu. Mungkin saja kami tak pernah bangkit lagi.
Yaaa hasilnya bisa ditebak, meskipun
kami bisa datang tepat waktu, kami tak berlari lebih dari 10 menit pagi itu.
Badan kami masih drop setelah hampir sebulan meratapi nasib di kamar.
Belakangan kami baru tau,
semangat kami bangkit di malam yang sama. Ali belum benar-benar bangkit kala
menelponku malam itu. Tapi Ali tak akan pernah mengabaikan tantanganku. Kami
baru sadar betapa pentingnya seorang sahabat, yang bisa jadi lebih mengerti keadaanmu
daripada orangtuamu, daripada kekasihmu. Engkau tetap bisa menghormati
orangtuamu, juga tetap bisa mencintai kekasihmu, sembari hidup bersama
sahabatmu.
Potongan terakhir pisang goreng
kulahap dengan rakus, menyisakan cete kopi tubruk buatan ibuku. Hari ini aku
off, jatah istirahat mingguan dari dinasku di Batalyon III Siliwangi. Bagaimana
kabarmu Ali ? gumamku pelan. Aku yakin dia juga sedang menjalani hidup yang
menantang di Batalyon II Sriwijaya. Aku masih mengingat semuanya li. Motivasi
tinggi mu, semangat pantang menyerahmu, tetap ada dibenakku. Ali, terimakasih
untuk persahabatan dan mimpi kita.

No comments:
Post a Comment