Monday, October 13, 2014

terlambat

         keseharianku dalam kesendirian berubah secepat kilat semenjak hari itu, semenjak pesan singkat yang kukirim ke salah satu kontak dalam ponselku. selanjutnya kehidupanku penuh dengan keceriaan dan senyum simpul seorang wanita yang baru saja dekat denganku. pertemanan kami sebenarnya bermula dari sebuah lembaga kampus. kami masuk bersama dalam tahun yang sama, tahun pertama kuliah kami. banyak agenda kelembagaan yang telah dilakukan, dan gak ada satupun yang bisa membuat kami menjadi dekat, gak ada satu alasan pun untuk membuat kami becerita satu sama lainnya.
       suatu waktu aku memberanikan diri menyapa nya lewat pesan singkat, menanyakan apapun yang masih ada hubungannya dengan kesamaan kami, menggunakan pilihan kata yang paling tepat agar tidak menyinngung atau membuatnya merasa tersindir. luar biasanya responnya sangat baik, tawa demi tawa kami lontarkan satu sama lainnya, membuat diri ini semakin nyaman dengan kedekatan kami. baru rasa nyaman seperti dengan teman-teman pada umumnya, tetapi rasanyaterlalu cpat kami akra, seperti ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang luar biasa, menurutku.
        senyumnya tipis dibalut dengan goyangan pipinya yang selalu ada dalam khayalanku meskipun kami gak pernah bertemu secara jelas, hanya meraba bentuk wajah nya diseberang sana. begitupun aku yang selalu tertawa sendiri menyambut pesan singkat yang kami berbalas satu sama lainnya. sungguh kenyamanan yang luar biasa untuk hubungan instan ini. entahlah apakah sudah bisa dikategorikan sebagai hubungan.
        sehari setelah itu aku semakin bersemangat meniti jalan hidup ini, jalan hidup yang menggambarkan seperti apa masa depanku. kantung senyum dan tawa gak muat lagi bersarang dirongga mulut kami yang membuat tawa ini semakin buncah menggelegar mengangkasa. bukan tanpa sebab, aku dan dirinya lagi sedang merasakan gemercik tetesan cinta dalam kantong-kantong asmara lagi setelah beberapa bulan kering melanda. kemarau panjang yang melanda kami berdua membuat kami lebih cepat menerima satu sama lainnya, bahkan sebelum otak kami menyadari apa yang sedang hati ini rasakan. aku yang sedang dimabuk cinta beruaha mendekatkan diri sedekat mungkin dengannya mempersempit kemungkinan kehilangan dirinya. begitupun dia yang berusaha sejauh mungkin dari jauh dengan diriku. akhirnya tibalah kunjungan pertama ku ke kampung halamannya, benar saja aku hanya berkunjung ke kampung halamannya bukan kerumahnya. perjalanan panjang yang kami tempuh membuat kami semakin dekat lagi, hilanglah sudah kemungkinan unuk kehilangan.
        lagi setelah kunjungan pertama, kami pulang seangkot, dengan suasana syahdu dunia milik berdua, kami berbincang, bercanda melepas tawa sambil berbisik tentunya.
aku yang terlalu bahagia sudah merasa memilikinya setuhnya tanpa menginginkan hal yang lebih jauh lagi. tetapi itu semua ternyata menjadi bumerang bagiku, cintanya mengharapkan akan adanya kelanjutan, kejelasan dan keutuhan. aku yang terlanjur bahagia tidak menyadari itu dan membiarkan dia mengharapkan sesuatu yang tidak memiliki kejelasan pada pangkalnya. konflik pun muncul akibat protes kerasnya dengan semua sikapku. akhirnya aku menyadari semua itu tepat ketika masa itu telah lewat. aku meyadari dia megharapkan kesungguhanku setelah dia cembru dengan keahagiaanku mempermainkannya. buakn, aku bukan mempermainkannya, tetapi sedang menunggu waktu yang tepat untuk menggiringnya kembali ke jeratan cinta suci ini


No comments:

Post a Comment