Pagi
yang cerah, mentari selalu bersemangat, bersiap mengelilingi kontrakan baruku
dari depan ke belakang. Aku masih duduk diteras, menghabiskan secangkir kopi
panas. Kali ini tak ada pisang goreng seperti biasanya. Yaaa, setiap pagi aku
selalu menyempatkan waktu sejenak untuk duduk diteras rumah menjelang berangkat
bekerja. Pukul 08:10 WIB kopiku sudah tandas. Aku tersenyum penuh kemenangan. Hariku
bakalan berjalan indah pikirku, begitulah yang selalu aku tanamkan dalam
benakku.
Sepeda
motorku kukendarai penuh keyakinan, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Yaa,
aku naik sepeda motor karena kontrakan baruku terlalu jauh dari pabrik tempatku
bekerja. Ohh, hari senin yang
menyenangkan, gumamku sekali lagi, sambil melempar senyum pada daun-daun di
pepohonan. Hari ini, sekali lagi aku
akan bertemu dengan orang-orang yang kukagumi.
Brraackckkkckk
......
Brraaaccckkk
Bunyi
tangan menyentuh permukaan meja dengan sekuat tenaga. Seorang bos bertempramen
tinggi menasehati bawahannya.
“jam
berapa ini ?” kalimat pertama yang pertama kali kudengar hari ini di kantor “anda
saya bayar untuk bekerja, camkan itu”
belum sempat menjawab pertanyaan, aku sudah diberondongi dengan pernyataan
lainnya “silahkan keluar, banyak pekerjaan tertunda gara-gara anda”
“baik
pak, terimakasih pak”
Negeri
ini sudah merdeka, tapi banyak orang di dalamnya yang belum merdeka. Bahkan dalam
menyampaikan gagasan dan berpendapat. Negeri ini tidak kekurangan orang pintar,
tapi kekurangan orang yang peduli pada saudaranya. Aku meninggalkan ruangan
atasanku dengan gontai. Aku sungguh kelelahan, lelah lahir, lelah batin.
“iya,
saya lagi banyak urusan di kantor,
tolong jangan hubungi saya dulu” nada bicara yang kian meninggi dari balik
punggungku kembali terngiang di telingaku.
“apa
? dimana sekarang ? tolong segera beritahu saya” kali ini tak terdengar lagi
intonasi menekan dan mengintimidasi, yang ada hanya permohonan, tentu
dengan ada yang tak kalah tinggi dari
sebelumnya.
.............
Suasana
tegang nan mencekam menyelimuti ruangan 4x3 di sudut bangunan lantai 3. Tak ada
gelak tawa maupun tangisan, semua tertunduk lesu menunggu sesuatu yang bisa
saja hilang setiap saat.
“maaf
pak, kami sudah berusaha maksimal, semoga hasilnya segera memuaskan” sosok
lelaki setengah baya dengan warna rambut yang serasi dengan pakaian dinasnyanya
membuka percakapan.
“Ali
sangat beruntung pak, meskipun kepalanya mengalami pendarahan hebat, penanganannya
masih bisa diupayakan oleh tim berkat relawan yang cekatan membawa ali ke rumah
sakit. Bahkan bersedia mendonorkan darahnya tanpa fikir panjang. Terlepas dari
semua itu, Ali sangat beruntung masih diberi waktu oleh Tuhan” lanjut lelaki
paruh baya sambil melepaskan peralatan medis yang masih menggantung di
lehernya.
“tapi
bagaimana dengan anak saya pak ? bagaimana kedaan Ali? Dia baik-baik saja kan
pak ?” pak Roy mulai memberondong dokter dengan pertanyaan khas yang mendesak. Begitulah
pak Roy, selalu mendesak dan mengintimidasi.
Ali
anak yang beruntung dalam kemalangan. Lihatlah, bagaimana aku akan menjelaskan
semua ini. Anak ini sangat beruntung karena segera mendapat penanganan dengan
tepat. Juga mendapat penolong yang tepat. Meskipun begitu, kemalangan tetaplah
kemalangan. Walaupun Ali dapat diselamatkan, orang yang menabraknya melarikan
diri. Satu-satunya saksi mata adalah orang yang membawanya ke rumah sakit, dan
sekarang sang penyelamat itu tak tahu ada dimana.
“sudah
yah, Ali akan baik-baik saja, kita menunggu diluar saja, biarkan pak dokter
istirahat dulu” Bu Roy dengan sangat lembut mencoba menenangkan suaminya. Bu
Roy adalah satu-satunya orang yang mampu menenangkan pak Roy dari marah juga
dari kesedihan. Sebuah kombinasi yang sempurna.
Setelah
berpamitan pada dokter, keduanya bergegas keluar dari ruangan dokter lalu
menjaga anak semata wayangnya.
“Bagaimana
ceritanya bu ? bagaimana bisa Ali mengalami kecelakaan ini ? Bukankah Ali
berangkat ke sekolah ?” Begitulah pak
Roy, tak peduli kepada siapa dia berbicara, selalu mendominasi, begitu juga
kepada istrinya.
“Menurut
guru sekolahnya tadi Ali berniat pulang mengambil tugas sekloah yang
ketinggalan dirumah. Tapi sayangnya dijalan semua ini terjadi”
“terus
bagaimana kronologis kecelakaan nya, siapa yang melihat ?”
Bu
Roy hanya menggeleng, ia belum tahu
bagaimana cerita yang sebenarnya. Yang dia tahu dia hanya dikabarin oleh guru
sekolah anaknya. Entah siapa yang memberitahu guru sekolah Ali. Yang pasti
pahlawan yang cekatan dan baik hati itu sudah berjanji akan menjenguk anaknya
malam ini. “Yaa,diusahakan sepulang kerja langsung kesini, katanya” buru-buru
bu Roy memperbaiki balimatnya.
.................
Aku
masih saling tatap dengan Pak Roy atasanku, kami sama-sama belum dapat mengerti
keadaan ini, tapi lama-lama kami bisa memahaminya. Ali adalah anak semata
wayang pak Roy.
“saya
minta maaf sebelumnya pak, baru bisa kesini malam ini. Mungkin bapak masih
bertanya-tanya, tapi biarkan saya menjelaskan pelan-pelan. Saya belum pernah
datang terlambat ketika bekerja. Hari ini juga saya bisa saja tidak terlambat.
Tapi tadi pagi dari arah berlawanan ada anak SMP yang mengendarai sepeda motor
dan ditabrak truk dari belakang. Tidak ada siapa-siapa pada saat kejadian.
Mobil Van Hitam dengan plat B 4 BI langsung pergi setelah menabrak. Saya tak
pernah percaya sebuah kebetulan. Jalanan sangat sepi, sangat luas malahan untuk
kami melintas, tapi sepertinya mobil itu memang mengincar anak bapak. Saya tak
bisa memastikan, tapi saya percaya pada penglihatan saya pak. Langsung kuhampiri
anak tersebut, sambil melambaikan tangan dan teriak minta tolong, beruntung
segera ada mobil yang melintas tapi tak ada yang mau berhenti. Anak itu
langsung kugendong dengan sepeda motor ke rumah sakit ini, karena ini yang
paling dekat. Saya bersyukur kalo anak tersebut akhirnya bisa diselamatkan pak,
sekali lagi saya mohon maaf karena baru bisa memberi keterangan sekarang. Bapak
yang sabar, semua ini pasti ada hikmahnya”
Tidak
ada lagi yang bisa berkata-kata, ruangan rumah sakit VIP ini semakin lengang,
hanya bunyi AC yang berdesing pelan memenuhi ruangan. Tangis pak Roy semakin
jadi, tapi semakin tak ada suaranya.
No comments:
Post a Comment