Wednesday, January 9, 2019

ketulusan, pengorbanan dan keangkuhan yang menjadi satu


Pagi yang cerah, mentari selalu bersemangat, bersiap mengelilingi kontrakan baruku dari depan ke belakang. Aku masih duduk diteras, menghabiskan secangkir kopi panas. Kali ini tak ada pisang goreng seperti biasanya. Yaaa, setiap pagi aku selalu menyempatkan waktu sejenak untuk duduk diteras rumah menjelang berangkat bekerja. Pukul 08:10 WIB kopiku sudah tandas. Aku tersenyum penuh kemenangan. Hariku bakalan berjalan indah pikirku, begitulah yang selalu aku tanamkan dalam benakku.
Sepeda motorku kukendarai penuh keyakinan, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Yaa, aku naik sepeda motor karena kontrakan baruku terlalu jauh dari pabrik tempatku bekerja.  Ohh, hari senin yang menyenangkan, gumamku sekali lagi, sambil melempar senyum pada daun-daun di pepohonan.  Hari ini, sekali lagi aku akan bertemu dengan orang-orang yang kukagumi.
Brraackckkkckk
......
Brraaaccckkk
Bunyi tangan menyentuh permukaan meja dengan sekuat tenaga. Seorang bos bertempramen tinggi menasehati bawahannya.
“jam berapa ini ?” kalimat pertama yang pertama kali kudengar hari ini di kantor “anda saya bayar untuk bekerja,  camkan itu” belum sempat menjawab pertanyaan, aku sudah diberondongi dengan pernyataan lainnya “silahkan keluar, banyak pekerjaan tertunda gara-gara anda”
“baik pak, terimakasih pak”
Negeri ini sudah merdeka, tapi banyak orang di dalamnya yang belum merdeka. Bahkan dalam menyampaikan gagasan dan berpendapat. Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang yang peduli pada saudaranya. Aku meninggalkan ruangan atasanku dengan gontai. Aku sungguh kelelahan, lelah lahir, lelah batin.
“iya,  saya lagi banyak urusan di kantor, tolong jangan hubungi saya dulu” nada bicara yang kian meninggi dari balik punggungku kembali terngiang di telingaku.
“apa ? dimana sekarang ? tolong segera beritahu saya” kali ini tak terdengar lagi intonasi menekan dan mengintimidasi, yang ada hanya permohonan, tentu dengan  ada yang tak kalah tinggi dari sebelumnya.
.............
Suasana tegang nan mencekam menyelimuti ruangan 4x3 di sudut bangunan lantai 3. Tak ada gelak tawa maupun tangisan, semua tertunduk lesu menunggu sesuatu yang bisa saja hilang setiap saat.
“maaf pak, kami sudah berusaha maksimal, semoga hasilnya segera memuaskan” sosok lelaki setengah baya dengan warna rambut yang serasi dengan pakaian dinasnyanya membuka percakapan.
“Ali sangat beruntung pak, meskipun kepalanya mengalami pendarahan hebat, penanganannya masih bisa diupayakan oleh tim berkat relawan yang cekatan membawa ali ke rumah sakit. Bahkan bersedia mendonorkan darahnya tanpa fikir panjang. Terlepas dari semua itu, Ali sangat beruntung masih diberi waktu oleh Tuhan” lanjut lelaki paruh baya sambil melepaskan peralatan medis yang masih menggantung di lehernya.
“tapi bagaimana dengan anak saya pak ? bagaimana kedaan Ali? Dia baik-baik saja kan pak ?” pak Roy mulai memberondong dokter dengan pertanyaan khas yang mendesak. Begitulah pak Roy, selalu mendesak dan mengintimidasi.
Ali anak yang beruntung dalam kemalangan. Lihatlah, bagaimana aku akan menjelaskan semua ini. Anak ini sangat beruntung karena segera mendapat penanganan dengan tepat. Juga mendapat penolong yang tepat. Meskipun begitu, kemalangan tetaplah kemalangan. Walaupun Ali dapat diselamatkan, orang yang menabraknya melarikan diri. Satu-satunya saksi mata adalah orang yang membawanya ke rumah sakit, dan sekarang sang penyelamat itu tak tahu ada dimana.
“sudah yah, Ali akan baik-baik saja, kita menunggu diluar saja, biarkan pak dokter istirahat dulu” Bu Roy dengan sangat lembut mencoba menenangkan suaminya. Bu Roy adalah satu-satunya orang yang mampu menenangkan pak Roy dari marah juga dari kesedihan. Sebuah kombinasi yang sempurna.
Setelah berpamitan pada dokter, keduanya bergegas keluar dari ruangan dokter lalu menjaga anak semata wayangnya.
“Bagaimana ceritanya bu ? bagaimana bisa Ali mengalami kecelakaan ini ? Bukankah Ali berangkat ke sekolah ?”  Begitulah pak Roy, tak peduli kepada siapa dia berbicara, selalu mendominasi, begitu juga kepada istrinya.
“Menurut guru sekolahnya tadi Ali berniat pulang mengambil tugas sekloah yang ketinggalan dirumah. Tapi sayangnya dijalan semua ini terjadi”
“terus bagaimana kronologis kecelakaan nya, siapa yang melihat ?”
Bu Roy hanya menggeleng,  ia belum tahu bagaimana cerita yang sebenarnya. Yang dia tahu dia hanya dikabarin oleh guru sekolah anaknya. Entah siapa yang memberitahu guru sekolah Ali. Yang pasti pahlawan yang cekatan dan baik hati itu sudah berjanji akan menjenguk anaknya malam ini. “Yaa,diusahakan sepulang kerja langsung kesini, katanya” buru-buru bu Roy memperbaiki balimatnya.
.................
Aku masih saling tatap dengan Pak Roy atasanku, kami sama-sama belum dapat mengerti keadaan ini, tapi lama-lama kami bisa memahaminya. Ali adalah anak semata wayang pak Roy.
“saya minta maaf sebelumnya pak, baru bisa kesini malam ini. Mungkin bapak masih bertanya-tanya, tapi biarkan saya menjelaskan pelan-pelan. Saya belum pernah datang terlambat ketika bekerja. Hari ini juga saya bisa saja tidak terlambat. Tapi tadi pagi dari arah berlawanan ada anak SMP yang mengendarai sepeda motor dan ditabrak truk dari belakang. Tidak ada siapa-siapa pada saat kejadian. Mobil Van Hitam dengan plat B 4 BI langsung pergi setelah menabrak. Saya tak pernah percaya sebuah kebetulan. Jalanan sangat sepi, sangat luas malahan untuk kami melintas, tapi sepertinya mobil itu memang mengincar anak bapak. Saya tak bisa memastikan, tapi saya percaya pada penglihatan saya pak. Langsung kuhampiri anak tersebut, sambil melambaikan tangan dan teriak minta tolong, beruntung segera ada mobil yang melintas tapi tak ada yang mau berhenti. Anak itu langsung kugendong dengan sepeda motor ke rumah sakit ini, karena ini yang paling dekat. Saya bersyukur kalo anak tersebut akhirnya bisa diselamatkan pak, sekali lagi saya mohon maaf karena baru bisa memberi keterangan sekarang. Bapak yang sabar, semua ini pasti ada hikmahnya”
Tidak ada lagi yang bisa berkata-kata, ruangan rumah sakit VIP ini semakin lengang, hanya bunyi AC yang berdesing pelan memenuhi ruangan. Tangis pak Roy semakin jadi, tapi semakin tak ada suaranya.

No comments:

Post a Comment